TRIBUNNEWS.COM - Jagoan Aprilia Racing, Jorge Martin, melontarkan pernyataan yang mengejutkan soal favorit juara dunia MotoGP 2026.

Alih-alih menyisipkan namanya sendiri dalam bursa calon peraih gelar, pembalap yang dijuluki Martinator ini memilih menepi dan menunjuk dua sosok rival sebagai favorit juara dunia MotoGP 2026.

Martin secara gamblang menyebut rekan setimnya di Aprilia, Marco Bezzecchi, dan sang juara bertahan, Marc Marquez, sebagai dua pembalap yang akan memperebutkan mahkota tertinggi kelas para raja.

Bagi Martin, prediksinya bukan sekadar ramalan kosong, melainkan berdasarkan fakta di lapangan yang sejauh ini terlihat sangat mendominasi.

Marco Bezzecchi saat ini tengah berada di puncak performa dan memimpin klasemen, sementara Marc Marquez tetaplah monster yang memegang status penguasa musim lalu.

"Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya seiring berjalannya waktu. Saya pikir Marco Bezzecchi dan Marc Marquez adalah favorit juara," terangnya mengutip Motosan.

"Yang satu (Bezzecchi) karena dia sedang memimpin klasemen, dan yang lainnya karena dia (Marquez) memenangi kejuaraan dunia terakhir. Kita akan melihat bagaimana tahun ini berjalan," tutur Martin menambahkan.

lihat foto
MARQUEZ VS BEZZECCHI - Persaingan Marc Marquez #93 dengan Marco Bezzecchi #72 dalam perhelatan sprint race MotoGP Jerman 2025 di Sirkuit Sachsenring, pada 12 Juli 2025. (Foto Arsip Juli 2025). (Foto: MotoGP)

Realitas Pahit Jorge Martin

Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa pembalap sekelas Jorge Martin mencoret namanya sendiri? Padahal, secara kualitas, ia adalah ancaman nyata.

Namun, kekasih Maria Matutez mencoba bersikap realistis.

Bayang-bayang rentetan cedera yang menghantamnya sepanjang musim 2025 menjadi alasan logis mengapa ia lebih memilih untuk menyingkir.

Meskipun ia menegaskan bahwa rasa lapar akan gelar juara tidak pernah padam, Martin merasa musim 2026 bukanlah momen di mana ia harus mempertaruhkan segalanya.

Ia kini membalap dengan beban yang jauh lebih ringan setelah berhasil mewujudkan impian masa kecilnya.

Baca juga: MotoGP 2027 Tak akan Ramah, Mending Marc Marquez Segera Pensiun

"Ambisi dan rasa lapar saya tidak berubah karena saya masih ingin tetap kompetitif. Tidak ada yang mengubah itu. Jelas bahwa bertarung sekarang, setelah memiliki gelar juara dunia, memang mengubah tekanan karena saya sudah mencapai impian saya, saya sudah mencapai apa yang saya inginkan," katanta.

"Sekarang saya ingin mencapainya lagi, tetapi saya tidak lagi memiliki kebutuhan yang sama. Mungkin tanpa rasa lapar (yang menggebu) itu, saya bisa membalap dengan cara yang lebih alami, dan itu bisa menjadi keuntungan bagi saya di kemudian hari," ungkapnya.

Transformasi Gaya Balap dengan Aprilia

Meski enggan menyebut diri sebagai favorit, performa Martin di lintasan justru berbicara sebaliknya.

Setelah tiga seri berlalu, ia secara impresif mampu bertengger di urutan kedua klasemen sementara.

Pencapaian ini adalah buah dari kerja kerasnya dalam menjinakkan kuda besi milik pabrikan Noale, RS-GP.

Pindah dari Ducati ke Aprilia bukanlah perkara mudah. Martin harus merombak total gaya balapnya untuk bisa menyatu dengan karakter mesin Aprilia yang sangat berbeda.

Proses adaptasi ini berjalan manis karena terbantu oleh evolusi motor Aprilia yang kian user-friendly dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Semuanya, semuanya berbeda. Saya harus cukup banyak mengubah gaya balap saya untuk mendapatkan hasil maksimal dari Aprilia."

"Selain itu, motornya telah banyak berubah selama setahun terakhir, dan itu membantu membuatnya lebih mudah, lebih terkendali, dan membuat segalanya menjadi lebih mudah," jelas pembalap asal Spanyol tersebut.

(Tribunnews.com/Niken)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.